hujan kemudian menyeruak masuk,
seakan berteriak,
minta didengar.
pandangannya teralih ke jendela.
pikirannya melayang
perasaannya terusik
dia menatap amarah.
amarah yang begitu terasa dekat,
mengumpul menjadi satu bola besar yang membuatnya tidak lagi mudah disembunyikan
dia menjadi begitu marah.
seketika itu juga dia hanya ingin berlari
membaur menjadi satu dengan apa yang sudah tertumpah, teriak, marah
hujan.
membaur karena dia tidak sepenuhnya berani ketika harus teriak sendirian, marah sendirian
membaur karena dia tidak punya kuasa untuk marah dan tumpah ke semua sesukanya
membaur karena takut
membaur
kabur
tak berapa lama hujan pun mereda,
menyisakan lembab yang kemudian melenyap.
habis.
16 November 2011
12 November 2011
satu lagi sabtu yang terlewat, dan perasaannya tidak lebih baik.
dia sampai hampir lupa bahwa dulu ada suatu saat ketika akhir pekan terasa begitu melegakan, menyenangkan.
sekarang semua hanya terasa datar.
tidak ada yang ditunggu-tunggu, tidak ada yang menanti-nanti di ujung minggu yang mengikat.
dia hanya menjadi... ada.
tapi tidak menjadi berarti.
bukan berarti dia bosan dengan rutinitas
bukan berarti dia muak dengan jarak
hanya saja,
sedih.
ketika dia tahu luang nya tidak berarti
dan peluk itu tidak bisa sampai
ketika jarak menjadi terlalu jauh
dan cium itu tidak jua berlabuh
ketika telepati itu hanya dongeng
dan rindunya terlalu besar
ketika kamu dan saya seharusnya bisa bersama tapi terhalang jarak yang ada
dia sampai hampir lupa bahwa dulu ada suatu saat ketika akhir pekan terasa begitu melegakan, menyenangkan.
sekarang semua hanya terasa datar.
tidak ada yang ditunggu-tunggu, tidak ada yang menanti-nanti di ujung minggu yang mengikat.
dia hanya menjadi... ada.
tapi tidak menjadi berarti.
bukan berarti dia bosan dengan rutinitas
bukan berarti dia muak dengan jarak
hanya saja,
sedih.
ketika dia tahu luang nya tidak berarti
dan peluk itu tidak bisa sampai
ketika jarak menjadi terlalu jauh
dan cium itu tidak jua berlabuh
ketika telepati itu hanya dongeng
dan rindunya terlalu besar
ketika kamu dan saya seharusnya bisa bersama tapi terhalang jarak yang ada
07 November 2011
yang terpisah
saya menggapai,
dirasa jauh dalam mimpi
rindu membuncah,
sepi menjarah
percayalah,
kamulah satu.
dirasa jauh dalam mimpi
rindu membuncah,
sepi menjarah
percayalah,
kamulah satu.
06 November 2011
di antara
dia lalu menunduk, mendadak menjadi ringkih, mungil dalam semesta tempat kita mencari.
"saya rindu kamu"
dia kemudian terisak,
terisak,
kemudian mulai tersengal.
"saya rindu kamu"
"saya sudah jadi gila karena rindu kamu"
lalu dia terbenam dalam tangis
begitu sakit.
"saya rindu kamu"
dia kemudian terisak,
terisak,
kemudian mulai tersengal.
"saya rindu kamu"
"saya sudah jadi gila karena rindu kamu"
lalu dia terbenam dalam tangis
begitu sakit.
30 October 2011
kerinduan untuk menjadi hilang
timbul tenggelam
memecah hening
menjelma menjadi satu
hilang,
bersama
jemput aku.
memecah hening
menjelma menjadi satu
hilang,
bersama
jemput aku.
explanation of
the anger
the tears
the vulnerability
the stress
the neediness
the envy
the simplest wish
is
the simplest need of having you by my side
the tears
the vulnerability
the stress
the neediness
the envy
the simplest wish
is
the simplest need of having you by my side
05 October 2011
22 September 2011
18 September 2011
back to the roots
Aku merasa begitu kecil di tengah keluasanku.
Rintikmu raksasa dalam mungil tetesmu.
Engkau menyelimuti dengan dingin.
Dan semakin kau merapat, semakin membara alam ini.
Jutaan engkau kini turun membanjiriku.
Tak akan pernah aku meluap, Puteri.
Kugali tanahku lebih dalam dan kubuka semua celah untuk menyerapmu.
(Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, hal. 105 , Dee)
aging
hujan bisa menjadi keduanya sekaligus.
menyebalkan, mengotori, merusak hari.
sebaliknya menyenangkan, menenangkan, meredakan hari.
saya kecil selalu mengingat hujan sebagai memori indah. tidak ada satupun momen hujan yang saya benci. saya suka menari-nari, saya suka percik kecil saat butir-butir itu hinggap di kaca mobil, saya suka wangi hujan yang tiada tandingannya. saya bahkan dengan berani bilang hujan begitu menyenangkan adanya, dan saya tidak akan pernah membencinya seperti banyak orang dewasa di sekitar saya. mama selalu kerepotan memasukkan jemuran, papa selalu mengomel karena baru saja mencuci mobil. mereka bilang hujan membuat kotor. semua yang tadinya bersih jadi harus dibersihkan lagi. dan saya kecil hanya tersenyum sendiri, senang karena tahu saya begitu berbeda.
namun saya sudah tidak kecil lagi. dan sekarang saya mulai menggerutu ketika hujan tiba. ketika percikan yang dulu begitu indah sekarang hanya menjadi bercak-bercak kotor di kaki dan baju saya. ketika semua menjadi basah menyebalkan, dan saya begitu kedinginan. ketika saya menjadi benci keluar rumah saat musim hujan. kenapa? saya pikir selama ini saya kecil benar. saya pikir saya suka hujan.
saya mulai sadar bahwa mungkin ini bukan (hanya) karena saya kecil sudah berubah menjadi saya dewasa. mungkin ini karena situasi. karena saya kembali menemukan hujan menjadi begitu indah ketika saya menikmati dari jauh. menikmati suaranya, menikmati percik-perciknya dari jendela, menikmati harum hujan yang begitu alami. menikmati tanpa mengalami dinginnya terguyur, tanpa noda-noda kotor pada baju, tanpa flu-flu menyebalkan di saat yang tidak tepat.
tidakkah lucu,
bagaimana kita bisa begitu nyaman dalam ketidaknyamanan hanya dengan tidak mengalaminya?
Subscribe to:
Posts (Atom)