hujan kemudian menyeruak masuk,
seakan berteriak,
minta didengar.
pandangannya teralih ke jendela.
pikirannya melayang
perasaannya terusik
dia menatap amarah.
amarah yang begitu terasa dekat,
mengumpul menjadi satu bola besar yang membuatnya tidak lagi mudah disembunyikan
dia menjadi begitu marah.
seketika itu juga dia hanya ingin berlari
membaur menjadi satu dengan apa yang sudah tertumpah, teriak, marah
hujan.
membaur karena dia tidak sepenuhnya berani ketika harus teriak sendirian, marah sendirian
membaur karena dia tidak punya kuasa untuk marah dan tumpah ke semua sesukanya
membaur karena takut
membaur
kabur
tak berapa lama hujan pun mereda,
menyisakan lembab yang kemudian melenyap.
habis.
No comments:
Post a Comment