kadang secercah rasa bisa menjadikanmu sejuta kali lebih buruk.
atau sejuta kali lebih baik, entahlah.
semua logika dan khayal-khayal fantastis itu seketika mengabur, dan tiada satu pun yang bisa memperbaikinya.
dia hanya jatuh cinta.
terlalu jatuh cinta.
terlalu jatuh,
atau terlalu cinta?
dia tidak peduli.
persetan lah kalau ini cinta monyet, cinta palsu atau cinta model mana saja.
tapi nyatanya, rasa itu ada.
tidak peduli bagaimana kalau satu tahun lagi dia mencemooh diri sendiri,
atau bagaimana kemarin dia masih gembira dalam bebasnya.
dia betul-betul tidak peduli.
ti dak pe du li.
dia mabuk.
dia gila.
ya, teriakkan saja semua ke angkasa,
yang dia tahu,
mereka jatuh cinta!
13 June 2009
08 June 2009
resah.
kadang apa yang terjadi membuat kita mati rasa.
semua ini bisa jadi membuatmu gila.
membuat saya sakit hati tanpa perlu mengerti.
menjadikan apa yang dulu dianggap penting menjadi sebelah mata.
sehingga hadirlah saya yang hanya eksis di detik ini, jam ini, momen ini.
satu-satunya yang bingung, ketika semua orang menanyakan kebahagiaan saya.
gembira, tentu saja!, ucap saya sambil tersenyum yakin.
hanya saja saya kadang rindu ketegasan yang dulu sempat saya miliki.
ya, manusia berubah seiring waktu, saya mengerti.
hanya saja kadang perubahan itu begitu cepat, terlalu terburu-buru.
dan ketika kita menengok, kita tak lagi menemukan alasan mengapa begini dan tidak bisa begitu.
dan apa yang kita genggam entah seberapa bernilainya sampai kemudian kita menjadi terlalu takut untuk melepasnya, namun di momen yang sama engkau bisa jadi merasa begitu asing untuk merengkuhnya lebih dalam.
engkau seperti mencari dalam gelap.
bisa jadi kau menyentuh benda tajam, lalu terluka.
bisa jadi kau menyentuh lengan-lengan yang akan membantu menyalakan lampu untukmu.
semua posibilitas menjadi mungkin,
hanya saja kau harus terus berusaha menyentuh.
tanpa bisa tahu apa yang akan kau sentuh.
engkau kemudian akan merasa jantungmu berdegup cepat karena rasa senang dan takut yang menyergapmu sekaligus, nyaris membuatmu sesak napas.
maka engkau kemudian akan teringat betapa bosannya engkau ketika disuruh duduk diam menikmati terangnya sekitarmu tanpa harus mencoba menyentuh dan mencari lagi. dan seketika itu juga akan muncul setitik sesal yang tak bisa lagi kau tutup-tutupi.
tapi cerita itu sudah menjadi kisah, dan semua orang di dunia ini tak bisa lagi mendorongmu mundur.
maka saya pun hanya bisa tersenyum,
menertawakan semua yang bisa ditertawakan.
termasuk saya sendiri.
semua ini bisa jadi membuatmu gila.
membuat saya sakit hati tanpa perlu mengerti.
menjadikan apa yang dulu dianggap penting menjadi sebelah mata.
sehingga hadirlah saya yang hanya eksis di detik ini, jam ini, momen ini.
satu-satunya yang bingung, ketika semua orang menanyakan kebahagiaan saya.
gembira, tentu saja!, ucap saya sambil tersenyum yakin.
hanya saja saya kadang rindu ketegasan yang dulu sempat saya miliki.
ya, manusia berubah seiring waktu, saya mengerti.
hanya saja kadang perubahan itu begitu cepat, terlalu terburu-buru.
dan ketika kita menengok, kita tak lagi menemukan alasan mengapa begini dan tidak bisa begitu.
dan apa yang kita genggam entah seberapa bernilainya sampai kemudian kita menjadi terlalu takut untuk melepasnya, namun di momen yang sama engkau bisa jadi merasa begitu asing untuk merengkuhnya lebih dalam.
engkau seperti mencari dalam gelap.
bisa jadi kau menyentuh benda tajam, lalu terluka.
bisa jadi kau menyentuh lengan-lengan yang akan membantu menyalakan lampu untukmu.
semua posibilitas menjadi mungkin,
hanya saja kau harus terus berusaha menyentuh.
tanpa bisa tahu apa yang akan kau sentuh.
engkau kemudian akan merasa jantungmu berdegup cepat karena rasa senang dan takut yang menyergapmu sekaligus, nyaris membuatmu sesak napas.
maka engkau kemudian akan teringat betapa bosannya engkau ketika disuruh duduk diam menikmati terangnya sekitarmu tanpa harus mencoba menyentuh dan mencari lagi. dan seketika itu juga akan muncul setitik sesal yang tak bisa lagi kau tutup-tutupi.
tapi cerita itu sudah menjadi kisah, dan semua orang di dunia ini tak bisa lagi mendorongmu mundur.
maka saya pun hanya bisa tersenyum,
menertawakan semua yang bisa ditertawakan.
termasuk saya sendiri.
27 May 2009
ungkap.
sinetron memang mungkin tidak akan menjadi semurahan itu andai semua orang tidak sedemikian gengsi untuk mengakui bahwa hidup memang sebuah drama.
drama yang kadang terlalu fiksi sampai-sampai anda tidak sampai hati menyebutnya betulan ada.
saya, salah satu yang terlalu gengsi.
sampai-sampai hanya untuk bercerita saja saya ogah menjadi deskriptif,
karena memang sejujurnya hanya bingung, yang ada di otak saya.
saya dikaburkan fakta dan rasa yang membaur terlalu akrab, sampai-sampai saya tidak mengerti lagi dimana letak prioritas saya yang dulu saya agung-agungkan.
sahabat.
ketika segalanya belum terlanjur, saya hibur dia dengan kata-kata.
kata-kata yang kata dia begitu puitis dan merasuk sampai dia bisa bilang 'kamulah yang paling mengerti, sahabat' lalu memeluk saya hangat.
tapi, ya, percaya atau tidak memang saya rasakan sakit yang dia simpan ketika itu.
pahit yang dia usahakan selalu tersembunyi.
tapi nyatanya saya menjadi brengsek,
kenapa?
kenapa?
kenapa?
sumpah, saya juga tidak mengerti!
kata orang, ikuti kata hati.
tapi jika hati membawa jatuh, saya sudah tidak mengerti lagi.
kapok saya,
terlalu mendengarkan kata hati.
tapi semua kemudian menjadi terlanjur, dan tak lama lagi menjadi cerita.
yang paling parah, sesal dan syukur itu menjadi tak terpisahkan.
karena nyatanya saya dimanjakan dengan fakta yang begitu sinetron.
picisan,
tapi romantis.
demi Tuhan, sesal itu ada.
sesal karena telah menjadi sakit.
telah menjadi sakit yang begitu sakit karena dulunya cita-cita saya menjadi si pelipur lara.
bukan si pembawa pisau.
tapi apa saya sebegitu jahatnya,
sampai saya juga merasakan senang yang setengah mati,
karena hati yang tak hentinya membuat saya tidak konsentrasi?
maaf.maaf.maaf.maaf.maaf.maaf.terima kasih.
drama yang kadang terlalu fiksi sampai-sampai anda tidak sampai hati menyebutnya betulan ada.
saya, salah satu yang terlalu gengsi.
sampai-sampai hanya untuk bercerita saja saya ogah menjadi deskriptif,
karena memang sejujurnya hanya bingung, yang ada di otak saya.
saya dikaburkan fakta dan rasa yang membaur terlalu akrab, sampai-sampai saya tidak mengerti lagi dimana letak prioritas saya yang dulu saya agung-agungkan.
sahabat.
ketika segalanya belum terlanjur, saya hibur dia dengan kata-kata.
kata-kata yang kata dia begitu puitis dan merasuk sampai dia bisa bilang 'kamulah yang paling mengerti, sahabat' lalu memeluk saya hangat.
tapi, ya, percaya atau tidak memang saya rasakan sakit yang dia simpan ketika itu.
pahit yang dia usahakan selalu tersembunyi.
tapi nyatanya saya menjadi brengsek,
kenapa?
kenapa?
kenapa?
sumpah, saya juga tidak mengerti!
kata orang, ikuti kata hati.
tapi jika hati membawa jatuh, saya sudah tidak mengerti lagi.
kapok saya,
terlalu mendengarkan kata hati.
tapi semua kemudian menjadi terlanjur, dan tak lama lagi menjadi cerita.
yang paling parah, sesal dan syukur itu menjadi tak terpisahkan.
karena nyatanya saya dimanjakan dengan fakta yang begitu sinetron.
picisan,
tapi romantis.
demi Tuhan, sesal itu ada.
sesal karena telah menjadi sakit.
telah menjadi sakit yang begitu sakit karena dulunya cita-cita saya menjadi si pelipur lara.
bukan si pembawa pisau.
tapi apa saya sebegitu jahatnya,
sampai saya juga merasakan senang yang setengah mati,
karena hati yang tak hentinya membuat saya tidak konsentrasi?
maaf.maaf.maaf.maaf.maaf.maaf.terima kasih.
belakangan saya sadar bahwa saya begitu munafik.
tapi serius,
saya betul tidak menyangka.
siapa sangka dunia betul-betul setakterduga itu.
saya tidak biasa dengan kejutan.
maka tinggalkan saja saya jika anda memang begitu sakit hati.
biar saya rasa pahit yang kau reguk.
tampar saja pipi kanan dan pipi kiri!
agar saya rasa sakitnya dipukul.
tunggu.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
saya betul-betul bingung.
tapi serius,
saya betul tidak menyangka.
siapa sangka dunia betul-betul setakterduga itu.
saya tidak biasa dengan kejutan.
maka tinggalkan saja saya jika anda memang begitu sakit hati.
biar saya rasa pahit yang kau reguk.
tampar saja pipi kanan dan pipi kiri!
agar saya rasa sakitnya dipukul.
tunggu.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
maaf.
saya betul-betul bingung.
02 May 2009
koma ,
matanya nanar menatap layar komputer.
dia bingung,
kronis.
hatinya berdegup dua kali lebih cepat,
maka tak ada lagi waktu untuk logika menyelinap.
dia jatuh hati.
semua orang menentang,
namun wajahnya membayang.
ingin ia teriak,
pergi kamu!
namun di saat bersamaan hatinya berbisik,
bilang cinta dan semua akan menjadi baik.
dia tidak bisa menjelaskan betapa kata-kata begitu susah menjelaskan segalanya.
betapa dia seperti terpesona melihat setangkai mawar.
kagum akan keindahannya,
sekaligus takut akan tajamnya duri.
dia tahu benar,
tidak mungkin memeluk mawar tanpa berdarah.
dan yang paling gila,
dia mau berdarah demi sereguk keindahan itu.
dia mau ditusuk demi pelukan.
ya, bilang dia gila!
cerita tidak akan berakhir tanpa titik.
maka biarkan saja luka menjadi koma,
agar dia tidak perlu bangun dan sadar,
selama ini dia mencari luka.
untuk sahabat yang jatuh hati,
tapi tak pernah mau mengaku.
dia bingung,
kronis.
hatinya berdegup dua kali lebih cepat,
maka tak ada lagi waktu untuk logika menyelinap.
dia jatuh hati.
semua orang menentang,
namun wajahnya membayang.
ingin ia teriak,
pergi kamu!
namun di saat bersamaan hatinya berbisik,
bilang cinta dan semua akan menjadi baik.
dia tidak bisa menjelaskan betapa kata-kata begitu susah menjelaskan segalanya.
betapa dia seperti terpesona melihat setangkai mawar.
kagum akan keindahannya,
sekaligus takut akan tajamnya duri.
dia tahu benar,
tidak mungkin memeluk mawar tanpa berdarah.
dan yang paling gila,
dia mau berdarah demi sereguk keindahan itu.
dia mau ditusuk demi pelukan.
ya, bilang dia gila!
cerita tidak akan berakhir tanpa titik.
maka biarkan saja luka menjadi koma,
agar dia tidak perlu bangun dan sadar,
selama ini dia mencari luka.
untuk sahabat yang jatuh hati,
tapi tak pernah mau mengaku.
27 April 2009
mengawang.
saya tidak mengerti kenapa begitu sakit untuk hanya bicara seadanya. kadang ada ketakutan-ketakutan yang saya sendiri tidak mengerti kenapa harus ada. saya sudah entah berapa kali menasehati sahabat-sahabat untuk sudah keluarkan saja semua yang di hati. dan sudah entah keberapa kali juga saya diberi terima kasih dari sahabat-sahabat yang merasa saya begitu bijak. yang mereka tidak tahu, saya begitu bodoh dalam praktek. saya hanya bisa memberi nasehat, tapi saya tidak mau sadar bahwa sesungguhnya sayalah yang paling butuh dinasehati. saya rasa saya sudah tuli. kronis. dan itu satu hal yang tidak ada yang mau tahu. terutama saya sendiri.
air mata saya selalu mulai menetes seakan terjadwal setiap saya meletakkan kepala di atas bantal. saya benci keadaan dimana saya mulai merasa sepi. saya benci keadaan ketika saya tidak ada kesibukan. dan yang paling saya benci, ketika saya di tengah orang-orang yang saya cintai sekaligus saya benci. ketika saya bingung antara mencium pipi mereka atau menamparnya. ketika saya merasa bahwa saya bukan saya.
saya masih bisa bertahan terlihat cuek entah sampai kapan lagi. saya tahu mereka marah. saya tahu mereka mulai membenci saya. tapi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. ya, kamu yang membaca pasti juga kemudian akan mulai marah, dan merasa buang-buang waktu membaca halaman ini. lalu kamu mungkin akan langsung menutup halaman blog saya yang entah kenapa juga kamu buka. maaf. saya memang sedemikian bodoh.
saya sedih ketika melihat mereka marah. ketika mereka memaki saya tidak peduli. ketika mereka bilang saya egois. begitu ingin saya menghambur dalam tangis lalu menciumi mereka untuk menyatakan maaf atau cinta atau apa saja yang mau mereka dengar. ya tapi toh saya akan diam lalu sok tidak menggubris sehingga mereka semakin marah. semakin membenci saya. saya sudah tidak bisa merasa. apalagi berbicara. menulis pun saya begitu sakit.
saya begitu ingin jadi pahlawan lagi.
air mata saya selalu mulai menetes seakan terjadwal setiap saya meletakkan kepala di atas bantal. saya benci keadaan dimana saya mulai merasa sepi. saya benci keadaan ketika saya tidak ada kesibukan. dan yang paling saya benci, ketika saya di tengah orang-orang yang saya cintai sekaligus saya benci. ketika saya bingung antara mencium pipi mereka atau menamparnya. ketika saya merasa bahwa saya bukan saya.
saya masih bisa bertahan terlihat cuek entah sampai kapan lagi. saya tahu mereka marah. saya tahu mereka mulai membenci saya. tapi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. ya, kamu yang membaca pasti juga kemudian akan mulai marah, dan merasa buang-buang waktu membaca halaman ini. lalu kamu mungkin akan langsung menutup halaman blog saya yang entah kenapa juga kamu buka. maaf. saya memang sedemikian bodoh.
saya sedih ketika melihat mereka marah. ketika mereka memaki saya tidak peduli. ketika mereka bilang saya egois. begitu ingin saya menghambur dalam tangis lalu menciumi mereka untuk menyatakan maaf atau cinta atau apa saja yang mau mereka dengar. ya tapi toh saya akan diam lalu sok tidak menggubris sehingga mereka semakin marah. semakin membenci saya. saya sudah tidak bisa merasa. apalagi berbicara. menulis pun saya begitu sakit.
saya begitu ingin jadi pahlawan lagi.
ketika saya masih kecil, setiap saat saya merasa bosan dengan keadaan saya akan merengek minta pulang dan teriak-teriak "aku mau pulang!!" sambil ngambek jika dicuekin. dan sampai di rumah lalu saya akan kembali jadi anak manis yang main barbie sama kakak-kakak saya dan main rumah-rumahan sama adik saya. anak manis yang tidak akan menyisakan sayur masakan mama ketika makan siang dan dibonceng motor sama papa.
ketika saya bosan di sekolah dan berantem dengan teman sebaya, saya lalu kesal dan mendorong teman saya lalu lapor ke guru dan bilang, "aku mau pulang saja!!", ngambek lagi. tapi sampai di rumah, saya kembali ceria dan bergelayut di tangga dengan omelan mama yang khawatir.
ketika saya dimarahi pelatih saat kaki saya tidak bisa landing sempurna atau berputar dengan fokus, saya akan menangis di toilet terus melepas sepatu skating dan telepon papa sambil bilang, "aku mau pulang!!". dan sampai di rumah akan menangis di tempat tidur yang acak-acakan sambil mendengarkan lagu disney sampai puas.
dulu, rumah adalah nirwana saya.
tapi sekarang saya baru bisa bilang karena apa yang sudah berlalu mungkin memang bukan milik saya lagi. di supernova karya dewi lestari, tertulis "bisa kamu bayangkan jika ranjangmu adalah neraka?" dan saya baru merasakan betapa semua yang dia tulis begitu nyata.
ketika saya bosan di sekolah dan berantem dengan teman sebaya, saya lalu kesal dan mendorong teman saya lalu lapor ke guru dan bilang, "aku mau pulang saja!!", ngambek lagi. tapi sampai di rumah, saya kembali ceria dan bergelayut di tangga dengan omelan mama yang khawatir.
ketika saya dimarahi pelatih saat kaki saya tidak bisa landing sempurna atau berputar dengan fokus, saya akan menangis di toilet terus melepas sepatu skating dan telepon papa sambil bilang, "aku mau pulang!!". dan sampai di rumah akan menangis di tempat tidur yang acak-acakan sambil mendengarkan lagu disney sampai puas.
dulu, rumah adalah nirwana saya.
tapi sekarang saya baru bisa bilang karena apa yang sudah berlalu mungkin memang bukan milik saya lagi. di supernova karya dewi lestari, tertulis "bisa kamu bayangkan jika ranjangmu adalah neraka?" dan saya baru merasakan betapa semua yang dia tulis begitu nyata.
16 April 2009
badai serotonin di pagi buta.
tak heran energi ini begitu terkuras.
sakit ini tak dibagi,
tapi dinding itu selalu diabsen hadir.
buka mata menjadi sakit,
memulai hari bagai akhir.
tidak heran.
lawanku si realita!
(si homunculus yang dipaksa buta)
sakit ini tak dibagi,
tapi dinding itu selalu diabsen hadir.
buka mata menjadi sakit,
memulai hari bagai akhir.
tidak heran.
lawanku si realita!
(si homunculus yang dipaksa buta)
sok tau.
sekarang
aku
paham.
perasaan monster yang sedih ketika dirinya menjadi monster.
(dan betapa dia tidak bisa merubah dirinya jadi pahlawan)
aku
paham.
perasaan monster yang sedih ketika dirinya menjadi monster.
(dan betapa dia tidak bisa merubah dirinya jadi pahlawan)
29 March 2009
foto
hari minggu.
sendiri.
dia makan sambil memandangi seluruh ruang yang begitu sepi ,
lalu dia melihatnya.
sebuah foto 10 tahun yang lalu.
wanita cantik, senyumnya merekah.
dulu dia kenal baik.
busananya kuning elegan,
mengatakan pribadi yang hangat.
tatapannya tajam,
seakan dia tidak akan pernah jatuh.
dia tertegun.
pertama-tama dia ingin mendengus mencemooh fakta.
tapi hatinya begitu rapuh, dia mudah terenyuh.
maka,
tes tes tes!
dia kembali cengeng.
sendiri.
dia makan sambil memandangi seluruh ruang yang begitu sepi ,
lalu dia melihatnya.
sebuah foto 10 tahun yang lalu.
wanita cantik, senyumnya merekah.
dulu dia kenal baik.
busananya kuning elegan,
mengatakan pribadi yang hangat.
tatapannya tajam,
seakan dia tidak akan pernah jatuh.
dia tertegun.
pertama-tama dia ingin mendengus mencemooh fakta.
tapi hatinya begitu rapuh, dia mudah terenyuh.
maka,
tes tes tes!
dia kembali cengeng.
lalu?
cari cari cari.
melihat yang dikira dicari.
tapi keliru.
cari cari cari.
ketemu yang pas di hati,
tapi punya siapa?
cari cari cari.
capek sendiri.
melihat yang dikira dicari.
tapi keliru.
cari cari cari.
ketemu yang pas di hati,
tapi punya siapa?
cari cari cari.
capek sendiri.
28 March 2009
subuh.
malam sudah berganti pagi.
dia hanya bengong.
ngantuk.
tapi tidak mau tidur lantaran takut esok yang keburu datang.
mendadak dia kesepian.
dia ingin ditemani semua orang.
ingin menelpon semua teman yang sudah tidur.
sedih sedih sedih.
tapi tidak mengerti.
tidak bisa menerka apa yang sekiranya hilang,
atau apa yang mungkin salah.
sedih sedih sedih.
atau lebih tepat mungkin bingung.
dia ingin dipeluk.
sepi.
dia hanya bengong.
ngantuk.
tapi tidak mau tidur lantaran takut esok yang keburu datang.
mendadak dia kesepian.
dia ingin ditemani semua orang.
ingin menelpon semua teman yang sudah tidur.
sedih sedih sedih.
tapi tidak mengerti.
tidak bisa menerka apa yang sekiranya hilang,
atau apa yang mungkin salah.
sedih sedih sedih.
atau lebih tepat mungkin bingung.
dia ingin dipeluk.
sepi.
03 March 2009
situasi.
mendadak dia yang sedang berdoa tersentak. napasnya tersengal, memburu. matanya yang sudah nyaris menutup mengernyit, sakit. lalu kepalanya pusing, pusing yang sudah ditahannya sedari sore. pusing, pusing, pusing. terlalu pusing. dia mau muntah. kemudian dia menggigil. udara pengap tanpa AC di kamarnya mendadak berubah sedingin es. dia mendadak ketakutan, lalu puncaknya dia menangis. bingung, sendiri dan sakit.
dia tidak percaya dia mendadak ketakutan dalam kesendirian. dalam kesakitan.
tapi setelah terbaring tak berdaya, menggigil dan mau muntah, dia ambil keputusan.
ia datang dua menit setelah ditelpon.
tetap tanpa ekspresi, namun ia membelai rambut anaknya.
mengecek suhu tubuhnya dan mendekapnya sampai anak itu pulas.
pipinya basah oleh tangis takut.
dia sakit.
dia tidak percaya dia mendadak ketakutan dalam kesendirian. dalam kesakitan.
tapi setelah terbaring tak berdaya, menggigil dan mau muntah, dia ambil keputusan.
ia datang dua menit setelah ditelpon.
tetap tanpa ekspresi, namun ia membelai rambut anaknya.
mengecek suhu tubuhnya dan mendekapnya sampai anak itu pulas.
pipinya basah oleh tangis takut.
dia sakit.
Subscribe to:
Posts (Atom)